Salah satu instrumen investasi yang  paling populer saat ini adalah reksadana. Investasi reksadana berbeda dengan jual beli saham yang mengharuskan investor untuk memiliki pengetahuan yang memadai. Ketika berinvestasi di reksadana, investor tinggal meminta bantuan manajer investasi untuk mengelola dana kita. Apalagi investasi reksadana bisa dilakukan dengan modal Rp 100ribu saja.

Salah satu kriteria saya dalam memilih manajer investasi adalah Asset Under Management (AUM). AUM menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada manajer investasi tersebut. Lalu, apa itu AUM?

Apa itu Asset Under Management?

Dikutip dari Investopedia, Asset under management adalah total nilai pasar dari seluruh investasi yang dipercayakan oleh investor kepada manajer investasi. Definisi dari asset under management dan formula perhitungannya dapat berbeda antar masing – masing perusahaan.

Pada saat menghitung total AUM, beberapa manajer investasi memasukkan nominal tabungan di bank, uang tunai, dan total portfolio investasi. Sedangkan manajer investasi lainnya tidak memasukkan uang tunai dan tabungan di bank dengan alasan tidak menghasilkan return yang cukup bagi investor.

Pada umumnya, AUM merupakan salah satu aspek yang digunakan dalam mengevalauasi suatu perusahaan. Investor dapat mempertimbangkan bahwa pertumbuhan serta nilai AUM yang tinggi menjadi indikator positif atas kualitas dan kinerja manajemen.

Beberapa institusi finansial yang menggunakan indikator AUM adalah reksadana, venture capital, brokerage company, manajer investasi perorangan, atau portfolio manajer.

Sebagai indikator ukuran dana, penerapan AUM sangat luas. AUM dapat merujuk pada total aset yang dikelola untuk semua klien, atau dapat merujuk pada total aset yang dikelola untuk klien tertentu.

Baca juga : 5 Manfaat Wealth Management bagi Anda

Asset Under Management di Reksadana

Keberhasilan reksadana seringkali diukur dari total dana yang dikelola manajer investasi. Istilah AUM juga biasa disebut dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) … padahal artinya bisa sangat berbeda. Kita dapat menyebut total dana yang dikelola oleh manajer investasi sebagai AUM, tetapi kita tidak dapat menyebutnya sebagai NAB.

Sebagai contoh, PT Schroder Investment Management Investasi memiliki lebih dari puluhan produk reksadana, seperti Schroder Dana Istimewa dan Schroder Dana Prestasi Plus.

NAB merupakan gambaran harga dari satu produk reksadana saja, sedangkan AUM menghitung total dari seluruh produk reksadana yang dikelola PT Schroder.

AUM dan NAB bukanlah cerminan harga reksadana. Kita tidak dapat mengatakan sebuah reksadana terlalu mahal karena AUM yang tinggi, atau sebaliknya terlalu murah karena AUM-nya rendah.

Berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), suatu reksa harus mampu mengumpulan total dana kelolaan Rp 25 Miliar selama 90 hari berturut – turut.

Kesimpulan

AUM hanyalah salah satu pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam memilih reksadana. Selain itu, kita juga perlu melihat reputasi manajer investasi selama ini. Jangan sampai terlibat dengan manajer investasi yang memiliki track record buruk di masa lalu. Besar kemungkinan kejadian tersebut akan terulang kembali.

Selain itu, kita juga perlu mempertimbangkan kepatuhan manajer investasi terhadap mandat investasi. Sebagai contoh apabila kita membeli reksadana campuran, maka manajer investasi wajib membagi portfolio dana ke dalam instrumen saham dan instrumen pasar uang. Tidak fokus di salah satu instrumen dan malah merugikan investor.

Singkatnya AUM adalah indikator awal yang baik untuk menilai kepercayaan masyarakat dan kinerja reksa dana. Namun, kita harus melakukan due diligence lebih jauh lagi sebelum memutuskan.

Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda. Jangan lupa share kalau Anda suka. Tetap belajar.

Author

Write A Comment

five × three =

Pin It